Skip to content

KATEKISASI

Juni 6, 2011

Pengertian Katekisasi

Istilah katekisasi tidak asing lagi dalam kehidupan bergereja. Istilah ini akrab dengan warga gereja yang ingin mengaku percaya dan calon warga gereja yang ingin dibaptis. Katekisasi dimengerti sebagai suatu masa pengajaran atau masa belajar yang harus ditempuh, baik oleh orang yang ingin menjadi anggota gereja maupun ingin mengakui percaya.

Pengajaran atau belajar di gereja yang kita gunakan dalam katekisasi berasal dari bahasa Alkitab PB. Paling tidak ada tiga kata yang menunjuk pada pengajaran atau belajar, yaitu :

1. Katekhein yang berarti: memberitakan, memberitahukan, menjelaskan, memberi pengajaran. Dari berbagai arti itu, yang yang paling menonjol adalah memberi pengajaran atau mengajar. Yang dimaksud mengajar di sini adalah mengajar dalam arti praktis, yaitu: mengajar atau membimbing orang agar ia melakukan apa yang diajarkan kepadanya, bukan dalam arti intelektualistis.

2.  Didaskein (terjemahan bhs. Ibrani “mengajar”) yang berarti: menyampaikan pengetahuan dengan maksud agar orang yang diberi pengetahuan/diajar itu dapat bertindak dengan terampil. Didaskein ini bersifat praktis, yaitu penghayatan perbuatan-perbuatan penyelamatan Allah. Orang yang diajar tentang perbuatan-perbuatan penyelamatan Allah, melakukan/mewujudkan apa yang diajarkan kepadanya itu.

3. Paideuein yang berarti mendidik, yaitu memberikan bimbingan kepada anak-anak. Dalam PB kata ini menunjuk pada smeua aktivitas yang bertujuan untuk mempersiapkan anak-anak kecil/orang-orang muda di dalam masyarakat, sehingga mereka dapat menunaikan tugas mereka. Jadi, paideuei adalah suatu usaha untuk membimbing warga negara muda yang harus mengetahui dan menaati hukum yang berlaku di tengah masyarakat.

Dalam PL paideuein adalah tugas mendidik yang berlangsung di bawah aspek pengudusan untuk Allah dan perjanjian-Nya seperti halnya dalam PB. Dalam PB anggota jemaat adalah orang-orang kudus yang telah dipilih, dipanggil dan dikuduskan (diajar, dididik) oleh Allah Yang Kudus menjadi anggota-anggota umat-Nya.

Mengapa dari istilah-istilah tersebut akhirnya istilah katekisasi atau katekese yang ada kaitannya dengan kata katekhein yang digunakan oleh gereja, memang tidak jelas. Yang jelas ialah, bawa istilah ini adalah untuk menyebut pelayanan yang paling tua yang dilakukan oleh gereja, yaitu pengajaran gereja.

Fungsi dan tujuan katekisasi

Dari istilah-istilah tersebut dapat disimpulkan, bahwa katekese adalah suatu pengajaran, pendidikan, dan pembentukan para anggota jemaat, utamanya kaum muda, ke dalam perkataan dan perbuatan Allah yang dinyatakan dalam karya Kristus yang menyelamatkan di bawah pimpinan Roh Kudus. Itu semua dilakukan sebagai suatu persiapan/perlengkapan untuk hidup menurut kehendak-Nya di dunia ini. Jadi, Katekisasi berfungsi sebagai suatu sarana bagi tumbuh dan berkembangnya iman warga dan calon warga jemaat dalam mengikut Kristus sebagai Juruselamat, dengan tujuan agar mereka dapat mewujudkan iman itu dalam kehidupan sehari-hari.

Disebut sarana karena merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk menolong warga jemaat dan calon warga jemaat memahami iman Kristen. Dengan memahaminya diharapkan mereka mewujudkan iman itu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, katekisasi (pengajaran) itu  tidak berhenti setelah waktu katekisasi selesai dan sudah dibaptis atau sidi. Sebenarnya katekisasi itu berjalan seumur hidup, dalam arti sepanjang hidup kita harus mau menerima pengajaran Tuhan dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dari pengertian tentang katekisasi tersebut jelas, bahwa ternyata katekisasi merupakan hal yang sentral dalam kehidupan gereja, sebab melalui katekisasi warga jemaat diajak untuk mempercakapkan dan memahami isi iman Kristen yang merupakan pedoman bagi kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari warga jemaat dihadapmukakan dengan berbagai persoalan yang memerlukan pegangan/pedoman untuk mengatasinya. Tanpa pegangan/pedoman yang benar, mereka akan terombang-ambing dan dapat membahayakan kehidupan iman mereka, bahkan mereka dapat kehilangan iman.

Sejarah Katekisasi DAN MATERINYA

Katekisasi berawal dari kebiasaan yang terjadi di Israel. Dalam PL (Ul. 6:20-25; Maz. 78:1-7, dll.) disebutkan, bahwa orang-tua ditugasi memberikan pengajaran kepada anak-anak mereka tentang perbuatan-perbuatan Allah yang besar. Anak-anak itu harus meneruskan pengajaran orang-tua mereka kepada anak-anak mereka. Jadi, mereka melakukannya secara lisan turun-temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian, mereka memelihara tradisi lisan itu tentang perbuatan-perbuatan Allah yang besar.

Pada Masa Gereja Awal

Katekese pada masa PB diawali dengan pengajaran yang sangat sederhana, dengan pengakuan bahwa“Yesus adalah Tuhan”. Pengakuan iman itu juga disertai dengan bimbingan etis.

Pada awal abad pertama agaknya sudah ada sekolah-sekolah yang didirikan oleh jemaat Yahudi. Di sekolah-sekolah itu anak-anak usia sekitar 6-7 tahun mendapat pengajaran (bimbingan) dari para guru Torah. Pengajaran ini bukan dimaksudkan untuk memberi pengetahuan umum, melainkan pengetahuan tentang Torah. Pengajaran itu diberikan agar anak-anak tidak hanya menghafal ayat-ayat dalam torah, tetapi juga untuk mengetahui maknanya.

Pada akhir abad pertama, bahan katekese Jemaat Purba makin bertambah banyak, sehinga membutuhkan waktu yang semakin lama.

Pada abad kedua semakin berkembang dan memperoleh bentuk-bentuk tertentu. Peserta  katekisasi dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah tahap percobaan. Apabila dapat melampaui tahap ini, berlanjut ke tahap berikutnya, yaitu tahap persiapan baptis.

Pada Masa Perjalanan Gereja

Dalam perjalanan gereja, ternyata katekisasi mengalami pasang surut. Pada abad-abad pertengahan, katekisasi makin mendangkal yang sebenarnya sudah dimulai pada abad pertama. Pendangkalan ini disebabkan adanya baptisan anak-anak dari keluarga Kristen, dan mereka tidak diberi lagi pengajaran katekisasi.  Hal ini disebabkan oleh adanya tradisi, bahwa katekisasi hanya diberikan kepada orang-orang yang berpindah agama dari agama kafir ke agama Kristen sebagai persiapan baptisan. Itu pun tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, dengan teliti. Ajaran hanya dihafalkan, tidak dihayati. Rupanya di sinilah awal mulanya muncul ujian bagi para calon baptisan.

Dalam abad kedelapan dan kesembilan, katekisasi mengalami pembaruan. Persiapan yang baik perlu dilakukan bagi orang-orang yang akan menerima baptisan. Katekisasi sebelum baptisan merupakan syarat yang harus dipenuhi. Sayang hal ini tidak berjalan lama. Sesudah itu  katekisasi merosot lagi, yaitu hanya sekedar  menghafal pokok-pokok ajaran.

Dalam abad kelimabelas katekisasi tidak berarti samasekali, karena sudah begitu merosotnya. Pada saat itu Alkitab tidak dijadikan bahan khusus dalam katekisasi.

Pada waktu reformasi. Reformasi yang menempatkan kembali Alkitab sebagai pusat dalam kehidupan bergereja menimbulkan perubahan dan pembaruan dalam bidang ketekisasi. Semua ajaran gereja adalah rangkuman dari ajaran Alkitab. Cerita-serita Alkitab dan sejarah gereja mulai dijadikan bahan katekisasi. Katekisasi tidak hanya diberikan kepada orang yang berpindah ke agama Kristen, tetapi diberikan kepada semua orang. Menurut para reformator, katekisasi pertama-tama merupakan tugas keluarga. Orang-tua wajib mendidik anak-anak mereka menurut hukum Tuhan, dan memimpin mereka kepada Kristus. Di samping keluarga, katekisasi juga merupakan tugas sekolah, sebab pada waktu itu hubungan antara gereja dan sekolah sangat erat. Zwingli dan Calvin berpendapat, bahwa katekisasi adalah tugas pokok gereja. Bahan-bahan katekasasi tidak hanya dihafalkan, tetapi juga harus dimengerti; tidak hanya dimengerti dengan otak, tetapi juga dimengerti dengan hati.

Pada waktu zending Belanda katekisasi berhubungan erat dengan pelajaran agama di sekolah (Kristen), sehingga pelajaran agama di sekolah dipandang sebagai “pesemaian” katekisasi. Kebiasaan ini diambil dari gereja-gereja di Eropa yang dibawa oleh para zendeling ke Indonesia. Guru-guru yang mengajajar di sekolah harus menandatangani pengakuan iman Gereja-gereja Belanda, Katekismus Heidelberg, dan Dasar-dasar Ajaran Sinode di Dordrecht yang disebut Ketiga Surat Simbolis. Pelajaran agama yang diberikan di sekolah adalah pelajaran katekisasi yang diberikan di gereja seperti, menghafal doa Bapa Kami, dasa titah, ikhtisar katekimus Heidelberg, menyanyikan mazmur.

Pada waktu sekarang ini situasi katekisasi di gereja berbeda dari situasi pada zaman zending. Sekarang ini bahan-bahan yang diajarkan bervariasi. Sinode GKJ sekarang ini memiliki Pokok-pokok Ajaran Gereja (PPAG). Pelajaran katekisasi tentunya harus mengacu pada PPAG tersebut. Tentu saja tidak menutup kemungkinan dibantu dengan buku-buku lain. Materi katekisasi sekarang ini memang perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang berkaitan dengan situasi yang sedang hidup dan berkembang pada masa kini. Demikian pula dengan metodenya. Perlu dikembangkan metode yang melibatkan para katekisan untuk menemukan sendiri maksud Allah melalui materi yang dipercakapkan bersama. Para katekisan perlu dilatih untuk menggumuli makna iman mereka dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Jenis katekisasi

Menurut kepentingannya, sekarang ini kita jumpai ada lima jenis katekisasi, yaitu :

1. Katekisasi persiapan baptis dewasa

Katekisasi ini dilayankan kepada para calon anggota jemaat yang belum menerima tanda baptis anak.

2. Kartekisasi persiapan sidi

Katekisasi ini dilayankan kepada para anggota jemaat yang sudah menerima tanda baptis anak.

3.  Katekisasi pranikah

Katekisasi ini dilayankan bagi para pasangan yang akan menikah atau sudah bertunangan. Mengingat pentingnya katekisasi ini, beberapa jemaat GKJ sudah melaksanakannya walaupun belum ada keharusan dari sinode. Pernah disusun bahan Katekisasi Pernikahan, tetapi sayang sampai saat ini bahan tersebut belum juga muncul. Dalam pelaksanaannya, tentu bukan hanya pendeta yang melakukannya, tetapi juga para ahli di bidangnya seperti dokter, psikolog, sosiolog, ekonom yang berkaitan dengan kehidupan pernikahan. Dengan demikian, guru katekisasi pranikah adalah suatu tim.

4. Katekisasi umum

Katekisasi umum adalah katekisasi yang dilayankan kepada siapa saja yang ingin mengenal dan belajar ajaran Kristen (bukan untuk mengaku iman atau baptis) seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah Kristen atau juga di rumah-rumah sakit Kristen.

Dalam kenyataan, katekisasi bagi para katekisan persiapan baptis dan persiapan sidi dilakukan bersama-sama dengan materi yang sama, walaupun seharusnya materi untuk mereka perlu dibedakan. Katekisan calon sidi adalah orang yang sudah mengenal kekristenan melalui keluarga dan jemaat, sedangkan katekisan calon baptis adalah orang yang baru mulai belajar mengenal kekristenan, sehingga memerlukan materi yang lebih banyak dan mungkin juga waktu yang lebih lama.

Penyelenggaraan katekisasi

Siapa yang harus menyelenggarakan katekisasi dan bagaimana penyelenggaannya ? Menurut sejarahnya, ada tiga macam katekisasi:

1. Katekisasi sekolah adalah katekisasi yang diselengarakan oleh sekolah Kristen bagi para murid yang ingin baptis atau sidi, bahkan juga bagi anak-anak tingkat SD sebagai pelengkap pelajaran Agama Kristen selama mereka menjadi siswa di sekolah tersebut. Sebaiknya penyeleanggaranya adalah gereja, bukan sekolah.

Sekarang ini banyak sekolah Kristen yang sudah tidak lagi melakukannya karena memiliki visi dan misi yang berbeda, di samping juga adanya peraturan penyelenggaraan persekolahan yang diberlakukan.

2. Katekisasi keluarga  adalah pendidikan iman Kristen yang dilakukan oleh orang-tua kepada anak-anak mereka  paling tidak sampai mereka membentuk keluarga sendiri.

3. Katekisasi gereja adalah katekisasi persiapan baptis dan sidi yang diselenggarakan oleh gereja dan dalam kurun waktu tertentu.

Katekisasi, tanggung jawab siapa

Siapa yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan dan pelaksanaan katekisasi? Memperhatikan uraian tersebut di atas, paling tidak ada tiga lembaga yang bertangggung jawab atas terselenggaranya katekisasi, yaitu keluarga Kristen, gereja dan sekolah Kristen.

1. Keluarga Kristen

Keluarga Kristen adalah tempat asal anggota jemaat. Setiap orang-tua sebagai penanggung jawab kehidupan keluarga mempunyai tanggung jawab memperkenalkan dan mengajarkan karya keselamatan Allah yang telah mereka alami itu kepada anak-anak mereka. Ini mempunyai konsekuensi bahwa setiap orang-tua perlu memiliki wawasan yang luas dan dalam mengenai iman Kristen serta mengalami iman itu dalam kehidupan sehari-hari. Orang-tua yang memiliki keluasan dan kedalaman pengetahuan dan pengalaman iman akan dapat mengajarkannya kepada anak-anak mereka, sehingga anak-anak itu juga dapat melakukan hal yang sama bagi anak-anak mereka. Demikianlah turun temurun.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka orang-tua berkewajiban mendorong anak-anaknya mengikuti katekisasi yang diselenggarakan oleh gereja atau sekolah Kristen (bagi yang sekolah di sekolah Kristen dan sekolah tersebut melayani katekisasi) apabila sudah tiba waktunya untuk sidi, sebagai realisasi janji yang diucapkan pada waktu membaptiskan anak tersebut; ikut mengusahakan adanya katekisasi lanjutan dan mendorong anak untuk mengikuti katekisasi lanjutan tersebut. Yang tidak kalah penting adalah juga perlunya diadakan katekisasi pranikah. Jika di jemaat sudah ada katekisasi pranikah, anak-anak yang akan menikah didorong untuk mengikutinya. Apabila belum ada katekisasi pranikah, dapat menganjurkan dan membantu terwujudnya katekisasi pranikah, sebab melalui katekisasi ini para calon pengantin dibimbing memasuki babak baru dalam kehidupan mereka, yaitu membentuk dan membangun keluarga Kristen.

Rupanya keluarga juga memiliki kewajiban untuk mengusulkan kepada Majelis mengenai materi katekisasi yang perlu diperckapkan dengan para katekisan. Tentu saja usul itu disampaikan sesudah mencari tahu mengenai materi yang diberikan melalui anak-anaknya yang mengikuti katekisasi dan atau melalui para katekisan pada umumnya.

2.  Gereja

Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang wajib mewariskan iman Kristen kepada warga gereja dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan mewariskannya berarti gereja memelihara karya keselamatan Allah bagi dunia. Karena gereja merupakan persekutuan, maka tanggung jawab itu ada pada Majelis. Majelis perlu memperhatikan dan peka terhadap para warga yang sudah waktunya sidi serta calon warga yang ingin menjadi pengikut Kristus. Pelaksanaannya perlu  diatur agar dapat berjalan dengan baik dan tujuan tercapai. Oleh karena itu, Majelis perlu memilih orang yang tepat untuk mengajar, memperhatikan materi yang diberikan dalam katekisasi tersebut, apakah materi tersebut sudah memadai dengan kebutuhan para katekisan pada masa kini, dan selalu memonitornya.

3. Sekolah Kristen

Sekolah Kristen berfungsi sebagai pemberita Injil dalam arti luas (bukan ‘menggiring’ orang untuk dibaptis dan menjadi anggota gereja tertentu) dan penanam nilai-nilai kristiani, baik kepada para siswa, kepada para guru (tenaga edukatif) maupun kepada para tenaga yang bukan guru (nonedukatif) yang berada di lingkungan sekolah tersebut.

Kedua fungsi tersebut (pemberita Injil dalam arti luas dan penanam nilai-nilai kristiani) harus tetap  diwujudkan, justru dalam situasi sekarang ini, walaupun dalam bentuk yang berbeda. Diperlukan kreatifitas yang tepat untuk mewujudkan kedua fungsi itu. Dalam hal ini tentu saja Pengurus Yayasan memegang peranan penting.

 

Guru Katekisasi

Siapakah guru katekisais itu? Siapa yang berhak menjadi guru katekisasi?

Katekisasi yang diselenggarakan, baik oleh gereja maupun oleh sekolah Kristen, adalah tanggung jawab gereja melalui Majelis. Oleh karena itu, pengajar katekisasi juga berada di dalam tanggung jawab Majelis. Karena katekisasi adalah masa persiapan bagi warga dan calon warga agar menjadi warga gereja yang bertanggung jawab, baik dalam hidup bergereja maupun bermasyarakat, maka pengajar/guru katekisasi hendaklah :

  1. 1.      Memahami fungsi dan tujuan katekisasi.

Seseorang yang akan menjalankan suatu tugas perlu memahami terlebih dahulu tugas yang akan diembannya, agar dapat melaksanakannya dengan baik

  1. 2.      Ditunjuk oleh Majelis

Tidak setiap orang mampu mengajaran. Oleh karena itu, guru katekisasi adalah orang yang dipilih oleh Majelis dan diberi tugas khusus untuk mempersiapkan katekisan. Karena mendapat tugas khusus, maka perlu mendapat mandat dari Majelis.

  1. 3.      Tidak sedang berada dalam penggembalaan khusus

Pada dasarnya, guru katekisasi adalah warga gereja dewasa yang tidak terkena “penggembalaan khusus” yang berkaitan dengan kehidupan moral dan spiritualnya.

  1. 4.      Mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas tentang kegerejaan dan kemasyarakatan.

Karena katekisasi adalah arena bagi katekisan untuk mempersiapkan diri dalam mengarungi kehidupa ini, maka guru katekisasi sebagai orang yang bertugas menyiapkan para katekisan perlu memiliki wawasan yang luas baik wawasan bergereja maupun bermasyarakat.

  1. 5.      Mau selalu belajar.

Untuk memiliki wawasan yang luas diperlukan kesediaan untuk senantiasa belajar dan mengembangkan diri, terbuka terhadap perubahan dan hal-hal baru yang sedang terjadi.

  1. 6.      Menguasai bahan perlajaran

Setiap bahan pelajaran memerlukan “perlakuan” khusus, karena memiliki isi yang berbeda.  Oleh karena itu, perlu disiapkan dengan baik agar dapat menguasai bahan tersebut.

  1. 7.      Memahami katekisan

Katekisan yang berbeda memerlukan perhatian yang berbeda pula. Kecuali itu, setiap saat mereka berada dalam situasi yang berbeda/berubah dari situasi sebelumnya, karena masalah-masalah kehidupan yang mereka hadapi berbeda/berubah dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, guru katekisasi perlu mengembangkan kepekaan dalam memahami situasi dan kondisi katekisan

  1. 8.      Menjalin hubungan baik dengan keluarga katekisan

Dengan hubungan yang baik, guru katekisasi dapat memperoleh masukan yang berharga bagi pengembangan dan peningkatan diri, baik dalam hal materi maupun mengenal para katekisan.

Murid Katekisasi

Keadaan murid katekisasi di setiap jemaat berbeda, maka murid katekisasi jelas memiliki latar belakang yang berbeda:

  1. 1.      Latar belakang keluarga

Murid katekisasi berasal dari keluarga Kristen dan keluarga bukan Kristen yang masing-masing memiliki kebiasan hidup dan tradisi yang berbeda.

  1. 2.      Latar belakang sosial ekonomi

Biasanya status sosial berkaitan dengan status ekonomi. Perbedaan status soisal dan ekonomi yang sangat mencolok dapat mengganggu sosialisasi di antara para katekisan dan antara katekisan dengan guru katekisasi.

  1. 3.      Latar belakang pendidikan

Di antara mereka ada yang berpendidikan tinggi, menengah, dan rendah bahkan ada yang tidak berpendidikan. Ada yang berlatar belakang pendidikan Kristen, negeri, swasta non-Kristen. Hal ini mempengaruhi daya serap dalam mencerna bahan pelajaran yang dipercakapkan.

  1. 4.      Latar belakang denominasi gereja

Ada denominasi gereja yang tidak mempunyai tradisi baptisan anak, ada denominasi gereja yang memiliki tradisi baptisan anak. Setiap denominasi gereja memiliki pengajaran yang berbeda. Hal ini akan mempengaruhi proses belajar para katekisan. Bimbingan yang tepat akan sangat membantu mereka.

  1. 5.      Latar belakang  kategorial

Ada berbagai kategori katekisan yang dapat digolongkan menjadi kategori usia (anak, remaja, pemuda, dewasa, lanjut usia),  pendidikan (pelajar dan mahasiswa), profesi (dokter, perawat, guru, petani, nelayan, pedagang, dsb.). Jika keadaan memungkinkan, peserta katekisasi perlu dibagi dalam kelompok-kelompok sesuai dengan usianya, pendidikannya, dan profesinya agar katekisasi dapat berjalan lebih baik. Misalnya antara katekisan yang sudah bekerja dan yang masih belajar memiliki perbedaan situasi dan kondisi, juga kesempatan serta fokus berpikir dan masalah dihadapi kadang berbeda: yang satu berkonsentrasi pada pekerjaan, yang lain berkonsentrasi pada studi. Katekisan dengan profesi yang berbeda menghadapi masalah dan tantangan yang berbeda pula.

  1. 6.      Latar belakang motivasi

Ada berbagai macam motivasi para katikisan sesuai dengan tujuan mengapa mereka mengikuti katekisasi, misalnya karena disuruh oleh orang-tua, ingin mengikuti perjamuan kudus, ingin dianggap dewasa dalam iman, ingin bertanggung jawab sebagai anggota jemaat yang dewasa. Motivasi-motivasi itu mungkin ada yang belum betul. Motivasi yang belum betul perlu dibetulkan/diluruskan.

Semua latar belakang tersebut perlu dipertimbangkan oleh guru katekisasi dalam melaksanakan tugasnya, baik yang berkaitan dengan materi katekisasi maupun yang berkaitan dengan metodenya.

 

Pendadaran/PERCAKAPAN IMAN

Pada akhir katekisasi, biasanya dilakukan pendadaran. Pendadaran pada dasarnya bukanlah ujian yang meliputi kemampuan nalar dan penguasaan materi sebanyak-banyaknya, melainkan merupakan suatu penguatan dan persiapan bagi para katekisan itu  memasuki babak baru dalam kehidupan iman mereka, baik dalam kehidupan bergereja maupun bermasyarakat. Oleh karena itu, sebenarnya yang penting adalah terangkumnya aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik pada diri katekisan yang didadar itu. Bukan hanya kemampuan intelektual yang penting, tetapi juga penghayatan apa yang telah dipelajari selama katekisasi itu dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pendadaran itu tidak perlu sampai berlarut-larut/bertele-tele yang hanya berkisar pada kemampuan nalar/intelektualitas.

Pada tahap ini mungkin guru katekisasi perlu memberi tugas kepada para katekisan untuk membuat suatu rencana yang akan mereka lakukan sesudah mengaku percaya atau sesudah baptis: partisipasi apa yang perlu mereka lakukan untuk membangun jemaat agar berfungsi di tengah masyarakat. Kepada katekisan pranikah perlu dimantapkan untuk mengarungi kehidupan berkeluarga yang akan dimulainya.

Berdasarkan hakikat, fungsi, dan tujuannya, bahan katekisasi bersangkut paut dengan 4 (empat) hal, yaitu : Alkitab, Pengajaran Gereja, Ibadah Gereja, Kehidupan Sehari-hari.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: